Senin, 04 April 2016 0 komentar

Pemulihan Jiwa By Dedy Susanto

baca ini sambil meihat foto anda di handphone atau yg lain. banyangkan diri anda tersenyum,tangan kiri pegang handphone/foto dan tangan kanan letakan di atas dada. jiwai dan hayati
"aku syang padaa diriku sendiri,.. melihat diriku tersenyum,..melihat diriku bahagia seperti difoto ini. iya,,inilah diriku yang sesungguhnya. diri yang tenaang,..diri yang ceriaa,..diri yang bahagia,..dirii yang pemaaf. 
kemanakah aku selama ini,..aku ingin kembali,..aku ingin pulang,..kembali kediriku yang pemaaf.,,kembali kediriku yang tenang.
HI..diriku,..yang sabar yah,..yang iklhas yah,..yang lalu biarlah berlalu. (tarik nafas panjang "bayangkan semua kekesalan,kekecewaan yang tidak penting,ketidak ikhlasan dibuang bersama nafas"buang nafas" aku ikhlaskan..aku lepaskan,..aku sangat yakin bila aku ikhlas sehaat badanku,..bila aku ikhlas lancaar rezekiku,..bila aku ikhlas indaah masadepanku,..katanyaa aku sayang pada diriku sendiri,.. inilah buktinya bahwa aku berkenan mengikhlaskan,..yang lalu biarlah berlalu.
masa depan lebih penting,..dengan aku ikhlas,.. ringaan langkahku mencapai kesuksesan.
wahai orangtuaku,ibu yang telah melahirkan aku,ayah yang telah berjuang untukku. ibuu..darahmu adalah darahku..dagingmu adalah dagingku..hatimu adalah hatiku.. DEMI IBU..aku ingin ikhlas..DEMI IBU.. aku ingin hidup yang tegar,pemaaf dan sabar. HI.. diriku yang ikhlas yah..ya tuhan.. mudahkanlah sabarku..mudahkanlah ikhlasku semudah nafasku (tarik nafas panjang buang) "demi kebahagiaanku aku letakkan sekarang,aku tinggalkan sekarang beban-beban fikiran yang tidak penting,karena aku penting,karena masadepanku penting,karena aku sayang pada diriku sendiri. (tarik nafas panjang buang "aku ikhlaskan" bawa diri anda membawa rasa syukur membawa rasa nyaman


untuk melihat lebih lengkap videonya video nya klik disini atau download audionya disini
Rabu, 25 Februari 2015 0 komentar

LUPA BELAJAR MELUPAKAN



Seberapa banyak rindu yang terpenggal?
tanyamu memantul-mantul di dinding kaca
menjadi rinai yang tempias ke dasar dada.
ada sungai yang menganak di sudut matamu
sejak kenangan harus tanggal,
desir angin menjadi denting paling genting
Berapa banyak luka yang harus dibebat sekaligus dibabat
agar tak banyak tumbuh luka baru?
lagi kau bertanya saat hijau rumputan tetanggamu tampak segar
kau harus merelakan hatimu jadi samudera
tempat segala sakit singgah dan betah merenanginya
sampai ia bosan dan menepi
kita telah lama belajar saling mengikhlaskan
tapi tak pernah benar-benar belajar saling melupakan
demi akrab dengan kata kehilangan.

-Ratna Ayu Budhiarti
 
;